Analisis Teks Pidato Presiden SBY dengan Pendekatan
Retorika Aristoteles
DISUSUN OLEH :
NADIA F. THOMAFI
105120600111006
MATA KULIAH METODE PENELITIAN SOSIAL
PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2011
A. URGENSI PENULISAN
Salah satu kegiatan Public Relations (PR) yang sangat penting bagi suatu organisasi adalah kegiatan membangun dan mempertahankan citra positif melalui pembentukan opini. Opini public dapat dibentuk melalui pesan-pesan yang disampaikan oleh para petugas PRO (Public Relations Officer). Pesan-pesan yang disampaikan oleh PRO dapat mempengaruhi pendapat dan perilaku public baik pada aspek kognitif, afektif, maupun konatif. Untuk menunjang penyampaian pesan ini, PRO melakukan kegiatan media relations yang terencana, teratur, dan berkesinambungan.
Lalu di mana urgensinya dengan suatu pemerintahan? Dapat kita katakana, bahwa melalui PR, pemahaman masyarakat tentang suatu pemerintahan bisa dibentuk melalui pemberian informasi yang tepat dengan pesan-pesan yang tepat pula. Karena itu Negara adalah organisasi (institusi) yang tidak berdiri sendiri dalam suatu kotak hampa sehingga selalu memerlukan dukungan publik. Di sinilah perlu dipahami bagaimana teori pesan dan teori menyampaikan pesan yang banyak digeluti oleh PR. Oleh karenanya pemahaman masyarakat mengenai suatu pemerintahan dan presidennya tidak luput dari kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh pemerintahan tersebut.
B. RUMUSAN MASALAH
Berangkat dari penjelasan yang telah dikemukakan, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah : Bagaimana Politik Pencitraan yang dibangun Presiden SBY melalui Teks Pidato dalam situs http://www.presidensby.info/index.php/pidato/ terlebih khusus dengan mengambil contoh teks pidato presiden SBY dalam acara Penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2012 di Istana Negara bulan Desember 2011 lalu.
C. KERANGKA TEORITIK
Dalam buku Theories of Human Communication karangan Little John, dikatakan bahwa studi retorika sesungguhnya adalah bagian dari disiplin ilmu komunikasi. Karena di dalam retorika terdapat penggunaan simbol-simbol yang dilakukan oleh manusia. Selanjutnya dikatakan bahwa retorika adalah seni untuk berbicara baik, yang dipergunakan dalam proses komunikasi antarmanusia .
Aristoteles menyebut bahwa ada tiga cara untuk mempengaruhi manusia. Pertama, pembicara harus sanggup menunjukkan kepada khalayak bahwa ia memiliki pengetahuan yang luas, kepribadian yang terpercaya, dan status yang terhormat (ethos). Kedua, pembicara harus menyentuh hati khalayak, perasaan, emosi, harapan, kebencian, dan kasih sayang mereka (pathos). Ketiga, pembicara meyakinkan pendengar/khalayak dengan mengajukan bukti atau yang kelihatan sebagai bukti. Di sini pendekatan yang dipakai adalah melalui otak dari khalayak (logos). Selain ketiga hal tadi, Aristoteles juga menyebutkan dua hal lain yang efektif untuk mempengaruhi pendengar. Yakni Entimem dan Example . Entimem adalah berasal dari bahasa Yunani yang artinya sejenis silogisme yang tidak lengkap, tidak untuk menghasilkan pembuktian ilmiah, tetapi untuk menimbulkan keyakinan. Sedangkan example adalah cara lain yang dikemukakan dengan cara menggunakan beberapa contoh. Secara induktif pembicara membuat kesimpulan umum.
D. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Konsekuensi dari pemilihan presiden dan wapres secara langsung oleh rakyat adalah ketidakpastian di tingkat elektoral. Pemenang ditentukan oleh pilihan para pemilih yang tidak stabil dan mudah berubah lantaran tergantung persepsi mereka terhadap kandidat. Untuk mengantisipasi ketidakpastian itu, disamping adanya fakta tren menurunnya kekuatan mesin politik partai, para pemimpin politik tersebut cenderung tidak terhindar untuk menjadikan diri mereka sebagai demagogue yang terus mempersuasi rakyat untuk mengamankan popularitas serta mempreservasi kekuasaan politik mereka. Karenanya, kampanye tidak terhenti setelah pemilu, melainkan terus berlangsung sekalipun mereka berada dalam kekuasaan.
Politik presentasi, kepribadian dan citra atau yang akhir-akhir ini disebut politik tebar pesona menjadi sangat penting dan dorongan yang jauh lebih kuat dari pada mengutamakan kerja-kerja konkret untuk penyelesaian persoalan masyarakat yang mendesak untuk ditangani seperti masalah kemiskinan, korupsi, dan penganggurang. Para pemimpin cenderung manipulatif sebab tindakan maupun kebijakan populis lebih diperuntukkan demi politik pencitraan melalui media massa. Akibatnya semakin sukar mengharapkan ketulusan dari para pemimpin. Dalam logika ini dengan mudah dibaca politik empati Jusuf Kalla terhadap para korban tidak bisa terpisahkan sebagai bagian strategi kampanye, yakni dengan mempertontonkan citra positifnya kepada publik lewat media untuk keperluan menghadapi SBY dalam Pilpres 2009 lalu.
E. PIDATO PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Pidato resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dikemas dalam situs resmi kepresidenan. Didalamnya selain berisi pidato, juga berisi profil foto kegiatan, ruang pers, wawancara dan kolom, kliping, berita utama, dan perspektif lain.
Menurut Aristoteles, komposisi pidato yang baik berisi tiga hal yakni kesatuan (utility), pertautan (coherence), titik berat (emphasis). Kesatuan berarti satunya isi, tujuan dan sifat, kemudian pertautan antara isi dikebelakangkan, sebagian lagi ditekankan, sebagian lagi diuraikan sambil lalu. Pesan yang harus dibagi dalam beberapa bagian yang berkaitan secara logis. Yang diatur menurut susunan berpikir manusia yaitu pengantar, pernyataan, argumen dan epilog. Pengantar fungsinya untuk menarik perhatian, menumbuhkan kredibilitas (ethos) dan menjelaskan tujuan.
Isi pidato dari segi Ethos
Sisi Ethos, menurut Aristoteles terdapat di bagian pengantar yang bertujuan untuk menumbuhkan kredibilitas si komunikator, dalam hal ini adalah presiden SBY. Aristoteles mengatakan bahwa tindakan retorika tidak hanya cukup berbekal argumen yang meyakinkan belaka melainkan juga harus mampu menampilkan sosok komunikator sebagai komunikator yang kredibel dan terpercaya. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa kredibilitas komunikator bisa diperoleh dengan menampilan 3 (tiga) karakteristik, yaitu Intelligence (intelegensia), Character (karakter), dan Goodwill (niat baik). Yakni pada pidato Presiden SBY termuat kalimat seperti ini :
Hari ini adalah hari yang sungguh penting karena sebagai pejabat publik, kita akan segera mengemban tugas, yaitu untuk menggunakan anggaran negara yang dipertanggungjawabkan kepada kita. Mari kita laksanakan tugas itu dengan penuh rasa tanggung jawab agar semua sasaran-sasaran pembangunan, baik di pusat maupun di daerah dapat kita capai.
Hari ini juga hari yang baik, di penghujung tahun 2011 untuk kita semua yang sedang mengemban amanah rakyat melakukan evaluasi atas kinerja kita, kinerja bersama kita. Dengan tujuan yang baik, kita pertahankan dan bahkan kita tingkatkan, yang belum baik, marilah kita perbaiki bersama-sama dengan sungguh-sungguh.
Tadi Menteri Keuangan telah melaporkan dan menjelaskan banyak hal. Saya akan menggarisbawahi hal-hal penting yang berkaitan dengan APBN, APBD dan penggunaan, baik APBN maupun APBD itu. Saya juga akan menyampaikan sejumlah instruksi yang khusus saya tujukan kepada jajaran pemerintahan agar sekali lagi, kinerja, realisasi, penggunaan anggaran makin ke depan makin baik.
Dari segi Pathos
Aristoteles mengatakan bahwa aspek pathos digunakan dalam retorika jika komunikator ingin membangkitkan perasaan-perasaan atau emosi tertentu dalam diri khalayak.
Pertama, saya ingin ulangi lagi yang pernah saya sampaikan, ekonomi Indonesia akan terus tumbuh, sebagaimanaalhamdulillah, kita dapatkan sekarang ini, manakala komponen pertama konsumsi rumah tangga kita kuat dan terus tumbuh. Rakyat kita, masyarakat kita terus mengkonsumsi barang dan jasa, punya daya beli untuk barang dan jasa. Kalau barang dan jasa dikonsumsi, industri akan hidup, pertanian akan hidup dan ekonomi makin besar. Konsumsi.
Yang kedua, investasi, manakala investasi terus terjadi di Indonesia ini, baik secara nasional maupun secara daerah. Itu yang kedua. Yang ketiga adalah sebetulnya ekspor kita atau tepatnya selisih antara impor dan ekspor, apakah tumbuh tahun itu dan tahun tahun berikutnya. Ini juga penyumbang pertumbuhan. Itu yang ketiga. Yang keempat atau yang terakhir, inilah yang berkaitan dengan yang kita bicarakan hari ini, yaitu belanja pemerintah,government spending. Empat komponen penyumbang pertumbuhan ekonomi kita.
Mari kita lakukan koreksi dan perbaikan untuk tahun depan, termasuk harus kita ketemukan sistem dan mekanisme yang tepat untuk membikin realisasi penggunaan anggaran ini memang benar-benar sesuai dengan harapan kita, termasuk reward and punishment.
Dari segi Logos
Pendekatan yang digunakan oleh Presiden SBY adalah pada analogi. Kita lihat di bawah ini sebuah analogi yang cukup panjang untuk menjelaskan upaya pencapaian program APBN.
Saudara-saudara,
Barangkali ada yang ingin menjawab pertanyaan penting APBN sebesar itu untuk apa? Akan kita gunakan untuk apa di tahun 2012 mendatang? Sebenarnya saya telah menjelaskan dalam pidato RAPBN dengan nota keuangannya di hadapan DPR RI dan DPD RI pada bulan Agustus tahun lalu. Saya tidak akan menjelaskan lagi karena sebenarnya secara prinsip apa yag telah saya jelaskan itu masih berlaku. Justru dalam kesempatan yang baik ini, ini adalah forum kerja, policy forum, bukan forum politik. Oleh karena itu, mari benar-benar kita melakukan evaluasi, sekaligus tekad dan rencana aksi di tahun mendatang untuk melakukan perbaikan-perbaikan atas penggunaan anggaran yang belum tepat.
Saya akan memulai Saudara-saudara, bahwa di samping banyak yang sangat bertanggung jawab di antara kita semua dan sungguh efektif dalam menggunakan APBN dan APBD-nya masih ada pula yang meleset, tidak sesuai dengan rencana. Sebagian harus kita akui memang ini masih ada merupakan penyimpangan-penyimpangan. BPK dan BPKP lazimnya akan menemukan hal-hal seperti ini. Tetapi yang kedua, justru yang akan menjadi fokus pembicaraan kita hari ini adalah masih ada ketidakmampuan dan ketidaktepatan di dalam menggunakan anggaran yang telah direncanakan dan ditetapkan.
Selanjutnya, dari sisi Logos juga mengacu pada apa yang dikatakan oleh Aristoteles bahwa semua angka-angka, grafik, dan klaim, bahwa semua itu merupakan hasil penelitian ilmiah adalah merupakan elemen dari Logos dalam proses retorika. Semua bukti-bukti tersebut harus disampaikan pada audiens agar mereka dapat melihat argument ini sebagai argument yang logis dan masuk akal.
Saudara-saudara,
APBN kita ini dari tahun ke tahun terus meningkat. Alhamdulillah, ekonomi kita terus tumbuh. Karena ekonomi tumbuh, penerimaan negara juga makin besar. Karena penerimaan negara makin besar, maka kita bisa membelanjakan anggaran itu untuk kepentingan pembangunan, kepentingan rakyat kita, baik di pusat maupun di daerah lebih besar lagi. Tahun anggaran 2012 yang bulan depan sudah mulai kita jalankan, APBN kita mencapai 1.435,4 triliun. Jumlah yang tidak sedikit. Jumlah ini naik dibandingkan tahun lalu sebesar 8,7 persen atau kenaikan itu setara dengan 114,6 triliun.
Satu bulan sebelum tutup anggaran 2011, baru mencapai 71 persen. Apalagi begitu dilihat posisi 30 November itu, belanja barang hanya 59 persen, belanja modal hanya 46 persen. Saya yakin kalau belanja rutin, belanja pegawai akan terserap habis, bagus. Tetapi jauh lebih bagus kalau anggaran atau belanja barang dan belanja modal ini juga diserap habis
Dari segi Aim
Kegunaan dari wacana atau discourse ini adalah sebagai Informative Speech atau pidato informative, yang bertujuan menyampaikan informasi. Khalayak diharapkan mengetahui, mengerti, dan menerima informasi tersebut. Tujuan pidato informatif ini adalah menanamkan pengertian. Karena itu, secara keseluruhan, pidato informatif harus jelas, logis, dan sistematis.
Yang menjadi audiens dalam kegiatan ini adalah Wakil Presiden, para Pimpinan Lembaga-lembaga Negara, para Menteri dan Anggota Kabinet Indonesia Bersatu II, para Gubernur, para Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Kementerian.
Dari Segi Mode
Teks pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dianalisis terdapat dalam media Internet. Internet sebagai media, sekarang berkembang pesat untuk menyajikan informasi selain media TV, radio, dan cetak. Teks ini terdapat dalam situs resmi Kepresidenan : http://www.presidensby.info/index.php/pidato/.
Kemudian ada beberapa pengembangan gagasan yang dikembangkan oleh Presiden SBY dalam pidatonya :
PEJELASAN :
Saudara-saudara,
Itu bagian pertama dari 2 hal yang ingin saya sampaikan. Bagian yang kedua atau yang terakhir yang justru menjadi tekanan saya pada acara penyerahan DIPA tahun ini, apa yang mesti kita lakukan secara konkret untuk mengoreksi dan memperbaiki realisasi APBN, APBD tahun depan. Ada 3 hal yang hendak kita lakukan. Pertama, karena saya mendapat keluhanlah katakanlah begitu dari sejumlah pengguna anggaran, baik pusat maupun daerah, termasuk para gubernur, adanya regulasi dan prosedur yang menghambat. Kalau kita tahu ada regulasi dan prosedur yang menghambat, ya jangan dibiarkan, jangan dibiarkan. Mari kita duduk bersama, segera kita lakukan perbaikan dan untuk ini saya kasih waktu 3 bulan untuk membereskannya. Jadi akhir Maret, saya tidak ingin mendengar ada regulasi dan prosedur yang sangat menghambat sehingga mengunci semua disbursement, semua penggunaan anggaran ini. Itu yang pertama.
Yang kedua, langkah konkret kita adalah saya berharap para menteri, para gubernur dan Kepala LPNK untuk melakukan pengawasan dan pengendalian langsung terhadap penggunaan anggaran ini, langsung. Suatu saat barangkali kalau sistem sudah bagus, lebih sedikit kendor tidak apa-apa, tapi khusus tahun-tahun mendatang ini, mari bersama-sama kita lakukan pengawasan dan pengendalian langsung.
CONTOH :
Saya masih mendengar APBD di daerah ada yang sangat terlambat. Bagaimana mungkin kalau DPRD mengetok palu pada bulan Juni. Tinggal 6 bulan, apa yang bisa dilakukan oleh provinsi itu. Indonesia adalah negara kesatuan, bukan negara federal. Sebetulnya antara gubernur, bupati, walikota dengan DPRD propinsi, kabupaten dan kota itu satu atap meskipun fungsinya berbeda, menjalankan kebijakan pemerintah nasional, pemerintah pusat, termasuk APBN. Tidak bisa dikunci oleh proses politik di daerah, akhirnya tidak mengalir. Kita akan melihat secara jernih semuanya ini.
F. KESIMPULAN
Dari 5 (lima) hukum Retorika yang dikemukakan oleh Aristoteles, yang paling dominan dalam teks pidato Presiden SBY adalah Elocutio (gaya). Pada tahap ini pembicara memilih kata-kata dan menggunakan bahasa yang tepat untuk “mengemas” pesannya. Aristoteles mengatakan agar menggunakan bahasa yang tepat, benar dan dapat diterima, pilih kata-kata yang jelas dan langsung, menyampaikan kalimat yang indah, mulia, dan hidup, dan sesuaikan bahasa dengan pesan, khalayak dan pembicara. Isi pidato Presiden SBY sangat sarat dengan kata-kata yang memang dia pilih benar-benar untuk mencitrakan siapa dirinya.
G. DAFTAR PUSTAKA
Buku
Rakhmat, J. 2000. Retorika Modern, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Non Buku
http://www.presidensby.info/index.php/pidato/ diunduh pada 30 Desember 2011 pukul 10:25 AM
puslit.petra.ac.id/journals/pdf.php?PublishedID=IKO07010205 diunduh pada 31 Desember 2011 pukul 07:54 AM
http://alldienow.blogspot.com/2011/12/politik-pencitraan-sby.html diunduh pada 31 Desember 2011 pukul 08:01 AM
http://www.ibu-anak.com/Presiden-SBY-dan-Politik-Pencitraan-:-Analisis-Teks-Pidato-....html diunduh pada 31 Desember pukul 08:17 AM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar